Rabu, 02 September 2026

Dear Imamku 2

Ini bukan kisah lanjutan dari Dear Imamku, tapi ini kisah yang berbeda bahkan jauh berbeda. Semua ini terjadi setelah aku melalui perjalanan dalam menemukan Rabb-Ku. Perjalanan ini tentu tidak mudah, seperti mengais permata di tengah pegunungan tinggi. Terseok, tersandung, terjerembab, dan terlumuri darah sudah menjadi menu sehari-sehari. Tapi lucunya, aku menikmati inci, mili, menit, dan detik dalam setiap langkahnya. Perjalanan mencari Allah, mungkin terdengar klise atau bahkan kelewat aneh bagi mereka yang lahir dengan islam, kemudian mati dengan islam. Tapi... apakah pernah terlewat dalam benak bahwa lahir dan mati dengan islam, akankah tetap meninggal dalam kondisi keislamannya? 

Sejak memikirkan hal itu, dadaku sesak, nafasku tidak beraturan, perlahan mataku basah. Tangis yang keras sudah tak bisa kubendung. Aku bangun tidur dalam kondisi tidak beraturan: mataku bengkak, rambut acak-acakan, dan rona wajah yang tak lagi ceria. Aku murung. Rasanya pertanyaan itu seperti memukul berat hati dan pikiranku. Hingga dalam suatu perjalanan bisnis di suatu gerbong kereta, aku bersebelahan dengan perempuan paruh baya, namun masih tampak jelas guratan kecantikannya seakan dia tidak pernah tua. Aku menyapa duluan dengan khas ekstrovert seperti biasa dan perempuan itu menjawab, tak selang lama tiba-tiba dia mengajakku diskusi terkait ma'rifat. 

Di era modern ini, ma'rifat mungkin menjadi kata kunci yang langka, mempelajarinya pun adalah hal yang tidak umum apalagi di kalangan anak muda. Dimana zaman sudah penuh kecanggihan teknologi dan kenyataan ekonomi yang semakin menukik tajam, jika berbicara tentang gaib yah akan dirasa sangat takhayul, benar bukan? Setelah melalui diskusi dalam kereta dan beberapa kali diskusi alot di luar itu, aku merasa ini jalanku dan harus mencari hal yang hilang dalam diri selama ini. Di luar kendali, tekadku berubah menjadi prajurit berzirah yang siap berlaga di kubangan lumpur. 

Aku harus jujur bahwa selama 30 tahun hidup tak pernah kurasakan nikmatnya berzikir. Aku selalu berzikir ala kadarnya tanpa paham apa hakikatnya. Aku merasa ibadahku hanya kosong dan kurang rasa. Beristighfar sampai merendahkan dan menghinakan diri di hadapanNya hanya kurasakan setelah aku benar-benar mengenal siapa RabbKu. Shalat seperti yang dirasakan Ali bin Abi Thalib hanya dapat kurasakan setelah aku mengenal kalimat Laa Ilaha Illallah (لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ) menggunakan ilmu ruh, energinya sangat dahsyat hingga kepala bergerak sendiri sambil menyeimbangkan irama dengan kalimat tauhid. Asmaul husna yang selama ini aku hafalkan semenjak sekolah dasar ternyata hanya dapat aku rasakan masuk ke dalam sumsum tulang dan menangis di tiap-tiap butir asmaNya disebut setelah aku benar-benar meresapi sifatNya dan menyadari bentuk terapan di kehidupan. Sebagai contoh, sifat Yaa Rahman Yaa Rahim, secara teori artinya Yang Maha Pengasih, Yang Maha Penyayang. Namun implementasinya bagaimana? Pernah kah terpikirkan dalam benak? 

Ternyata Yaa Rahman Yaa Rahim itu tidak sesederhana itu, dicontohkan dalam induk singa dan anaknya. Induk singa yang terkenal garang dan mengaum pada musuh dengan penuh kengerian, namun dia tetap memiliki sifat lembut terhadap anaknya. That's it! Sama sepertiku, yang sedang kesal-kesalnya dan sebal-sebalnya dengan seseorang, hingga aku berusaha sekuat tenaga menghindarinya, tapi tetap saja tidak bisa membencinya, seolah aku telah menerima segala tentangnya. Kira-kira begitulah contoh sederhana dari sifat Yaa Rahman Yaa Rahim milik Allah. 

Selanjutnya, ketika aku mengetahui bahwa hakikat manusia hidup hanya untuk menyambut kematian, hal ini aku pahami setelah aku mengalami kepahitan takdir hidup. Ternyata semua ibadah itu harus tentang rasa, tentang ruh yang menyatu dengan alam semesta.  

Tentu saja perjalanan ini tidak berakhir sampai di sini, aku masih terus menggali siapa aku dan apa tujuanku diciptakan selama ini. Setelah aku menemukan jawabannya, ternyata aku dipertemukan kenyataan bahwa imamku yang selama ini ada bukanlah imam yang dapat membawaku ke ujung sakinah, mawwaddah, wa rahmah. Kaget? Oh tentu shock, kaget, dan tidak percaya. 5 tahun berumah tangga baru kusadari setelah ini, L-I-M-A tahun bukan waktu yang sebentar dan untuk apa aku menyia-nyiakan waktu sepanjang itu hanya untuk sebuah keluarga yang tidak akan mencapai sakinah, mawwaddah, wa rahmah sengotot apapun berusaha mempertahankan. Lucu ya? Kadang untuk membuktikan keesaan Allah, manusia memang perlu diuji dan dibanting berulang kali. 

Selama aku berjalan dengan penuh ujian itu, aku tidak banyak marah namun lebih mudah menangis. Air mataku selalu tak terbendung di tiap-tiap melalui pembuktian akan keesaanNya, seakan aku hampir tidak sanggup dan perlahan mengakui bahwa ujian tersebut begitu berat untuk ditopang oleh pundak kecilku. Nyatanya, yang diperlukan bagi seorang hamba di tengah ujian itu, hanya pasrah dan berserah, hanya bersabar dan lapang, hanya mengaduh dan menangis, kemudian bersiap menelan mentah-mentah setiap ketetapanNya. Benar bahwa Allah selalu bekerja dengan caraNya untuk mengatur segala yang terjadi di kehidupan hambaNya. 

Ada sebuah surat yang ingin kusampaikan pada imam masa depanku, dimana sakinah mawwaddah wa rahmah hanya bisa digapai jika bersama dirinya. Awalnya aku tidak tau mengapa harus dia dan bagaimana dia dapat masuk ke dalam hidupku? Aku masih meraba-raba segala takdir yang dibebankan kepadaku: aku tidak mau egois, aku tidak mau idealis, aku harus menjadi pragmatis, banyak berpikir terbuka, menjadi tega, banyak melepaskan, tidak memihak, dan tidak memaksa. Aku bahkan sampai pada titik: sepertinya memang hanya Allah tempatku bergantung, sepertinya memang hanya Allah yang dapat diandalkan, sepertinya memang hanya Allah yang layak dicintai, sepertinya memang hanya Allah yang dapat dijadikan sandaran hidup. Just love Allah, then your life will be beautiful. Simpulan ini akhirnya menohok relung batin sampai ke tulang sumsumku. Aku justru tidak berlebihan, itulah yang sedang kurasakan. 


Dear Imamku 2, 

Aku baru saja menyadari, tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah dalam menyatukan hamba-hambaNya dan semua yang disatukan pasti ada asbabun nuzulnya. Semua itu bergantung pada manusianya, ingin bergerak untuk mencari petunjuk atau hanya berdiam diri sambil menunggu ketetapanNya. Kalau dibandingkan dengan kemajuan zaman yang saat ini ada, pertemuan pertamaku dengan calon imam di masa depanku sedikit aneh dan tidak masuk akal. Tapi apa yang dianggap tidak masuk akal itu justru menjadi hal yang paling masuk akal, begitulah kira-kira ilmu Allah, manusia harus menjangkau perihal demi perihal dengan akal dan batin yang berjalan selaras. 

Satu hal yang aku inginkan dalam perjalanan nanti bersamamu, aku hanya ingin keluarga sakinah mawwadah wa rahmah, aku tidak menginginkan apapun. Seperti yang Ayahku katakan bahwa uang hanyalah kertas, mobil adalah besi, dan rumah hanyalah tumpukan batu bata. Yang sangat kuinginkan berjalan menuju Allah dan rumah tangga seperti itu  dapat terwujud jika dan hanya denganmu, tidak dengan imam lainnya. Lucu ya? 

Mungkin dari perjalanan nanti, aku akan banyak belajar tentang cinta. Cinta karena Allah sebenarnya seperti apa, cinta yang banyak ketulusan dan tidak berharap apapun, kecuali bergantung padaNya. Aku tidak tau hal yang pasti di depan, aku tidak bisa menjanjikan apapun. Namun selama ini aku memegang janji dan setia untuk menjadi anak yang sholehah bagi Ayahku. Aku adalah anak perempuan yang tumbuh dengan banyak cinta dan kasih sayang dari seorang Ayah, sehingga selama ini aku tidak tertarik berpacaran dengan siapapun, because i'm fulled. Teruntuk imam masa depanku nanti, aku juga akan berjanji dan setia untuk menjadi istri yang sholehah.

Imamku, kali ini Ayahku benar-benar menitipkanku padamu untuk menjadi pelabuhan terakhir dan menyuruhku untuk taat padamu. Bagaimana pun nanti atau yang akan terjadi, aku akan berusaha mengikuti ceritamu, mengimbangi langkahmu, dan menyamakan iramamu. Aku tahu perbedaan usia kita sangat jauh, hari-hari mungkin akan penuh drama dan warna. Jadi... jangan lelah dan mudah mengalah untuk membimbingku ya :p jika nanti aku keras kepala atau mudah cengeng tegur saja. Semoga perjalanan ini selalu dalam lindungan Allah dan dijaga selama-lamanya. 

Dari makmum selamanya, Dessy. 


Surat ini aku tulis di tengah terik matahari, langit biru yang cerah dengan sapuan sedikit angin  siang yang lembab. Jemariku bergerak di depan layar besar Sistem Operasi Sonoma seraya menyeimbangkan dengan lantunan yang ada dalam benak. Tak sengaja, otakku dipenuhi banyak cerita dan kata-kata yang mengantri untuk dituangkan ke dalam tulisan. Aku sedikit berharap, tulisan ini dapat dikonsumsi publik, sehingga aku dapat mengangkat kisah ini dalam bentuk novel atau buku antologi. Ayahku sering bilang menulis itu salah satu bentuk refleksi diri dan jalan dakwah, jadi... jangan bosan menulis, karena suatu hari tulisanmu dapat menjadi bekal jariyah. Bukankah semua itu bergantung dari pena diarahkan kemana, kan?


Steal your thought,

Dessy Amry Raykhamna